Kamis, 27 Maret 2014

Jejaring Sosial jadi Tuhan baru masyarakat modern?



Dewasa ini, jejaring sosial yang sangat bermacam-macam seperti Facebook dan Twitter sangatlah banyak digunakan oleh manusia. Mengapa tidak? Di Facebook dan Twitter kita dapat berinteraksi dengan orang lain, menemukan teman lama, bahkan ada yang menemukan pendamping hidup di Facebook. Banyak sekali aplikasi yang ditawarkan oleh jejaring sosial seperti games, unggah foto, dll. Menambah teman di Facebook dan Twitter pun sangatlah mudah. Bahkan kadang orang bisa terkenal di Facebook dan Twitter namun kenyataannya tidak. Banyak juga yang mengunggah foto palsu atau yang telah diedit dengan sang raja edit seperti Photoshop. Berbagai aplikasi penguggah foto lainnya secara online juga m=banyak seperti Muzy.


Terlepas dari semua hal itu, akibat Facebook dan Twitter gaya hidup masyarakat juga semakin berubah. Di Facebook dan Twitter mereka banyak melakukan hal seperti update status misalnya. Diakui atau tidak, jejaring sosial Facebook dan Twitter kini telah menjadi kebutuhan hampir keseluruhan masyarakat dunia. Dengan ini masyarakat menjadi ketergantungan dengan yang namanya Facebook dan Twitter.

Jika diperhatikan, pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia mengalami sebuah pergeseran makna pemakaian jejaring sosial pada dasarnya. Secara sadar atau tidak, Anda dapat melihat status seorang teman yang 'seakan berdoa' pada Facebook.


Berdasarkan sebuah buku karya Nurudin berjudul 'Tuhan Baru Masyarakat di Era Digital', banyak pengguna Facebook saat ini memanjatkan doa atau mengeluh melalui status, seperti "Semoga semua berjalan dengan baik", "Ya Allah, mudahkanlah jalanku ini", "Mohon ampunanMu, aku masih berniat memperbaiki semua, bantu aku menjalani semua proses ini ya Allah", atau "Ya Allah, kenapa dia meninggalkan aku? Apa salahku?" dan sebagainya.
Seharusnya, memanjatkan doa bukanlah pada Facebook dan Twitter. Facebook dan Twitter bukanlah Tuhan yang dapat mengabulkan semua permintaan. Apakah Tuhan dapat melihat apa yang ditulis di Facebook? Apakah Tuhan memiliki Facebook sehingga dapat mengomentari status tentang permohonan tersebut?


Mereka tidak lagi berdoa pada Tuhan, namun melalui Facebook. Bukankah seharusnya berdoa kepada Tuhan hanya urusan dengan diri sendiri dengan Yang Maha Kuasa? Mengapa harus diketahui orang lain? Bisa jadi maksud dari status tersebut hanya untuk mendapatkan simpati atau sekadar 'amin' dari pengguna lain.
Meski tidak semua pengguna Facebook melakukan hal ini, namun kebanyakan dari mereka pernah, atau setidaknya sekali melakukannya. Akan tetapi paradigma ini bukanlah mutlak apa yang terjadi pada setiap individu, namun apa yang menjadi tulisan di status berbau permohonan tersebut 'seakan' menuhankan Facebook.
Terlepas dari itu semua, status Facebook bukanlah semata-mata menjadi tempat untuk berdoa bagi semua orang, artinya hanya sebagian dari pengguna Facebook yang melakukan hal tersebut. Semua kembali pada diri masing-masing, bagaimana setiap individu berlaku bijak dalam menilai maksud dari sebuah status pada Facebook.
Artikel ini saya copas dari Merdeka.com karena menurut saya sangat bermanfaat bagi kita semua. Jadi, kesimpulannya adalah kita boleh menulis status di facebook dan twitter namun kita tidak boleh menjadi berdoa di facebook dan twitter karena mereka hanyalah alat berkomunikasi bukanlah Tuhan kita. 

0 komentar: